Harga Tembaga Melejit, AS Hadapi Krisis Baru Jelang Tarif Impor
Dengan tarif tembaga membayangi dan impor melonjak, harga logam merah naik tajam. Dampaknya mengancam rantai pasok global dan dorong inflasi di sektor energi & teknologi.

Kiki • Mar 26, 2025

Di tengah hiruk pikuk kampanye dan retorika proteksionis, Amerika Serikat tengah mengalami “demam tembaga” bukan karena spekulasi semata, tapi karena realitas baru: gelombang besar impor tembaga membanjiri pelabuhan-pelabuhan AS jelang ancaman tarif impor dari mantan Presiden Donald Trump.
Harga tembaga melonjak tajam pada awal pekan ini, mencerminkan ketegangan pasar menjelang batas waktu 2 April, di mana tarif baru kemungkinan diberlakukan terhadap logam dasar termasuk tembaga.
Volume impor yang biasanya berkisar 70.000 ton per bulan kini meledak menjadi 500.000 ton, menurut laporan Mercuria yang dikutip Bloomberg. Ini bukan sekadar lonjakan pasokan ini strategi bertahan hidup pasar sebelum badai tarif menghantam.
Lonjakan Harga dan Strategi Panik
Harga kontrak tiga bulan untuk tembaga di London Metal Exchange (LME) menembus $9.925 per ton, hampir mencapai batas psikologis $10.000. Di pasar New York (Comex), harga naik 1,4%, bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi sebelum akhirnya terkoreksi.
Sejak Januari, harga tembaga Comex terus menyalip harga internasional sebagai respons atas spekulasi tarif baru.
Yang lebih mencemaskan, kesenjangan harga antara Comex dan LME mencapai $1.400 per ton, rekor baru yang mencerminkan ketegangan pasar domestik AS.
Dari Washington ke Dunia: Efek Domino Global
Langkah ini bukan hanya berdampak pada pelaku industri logam di AS. Jika tarif diberlakukan, dunia akan ikut terguncang. Berikut dampak strategisnya:
Inflasi Domestik Meningkat:** Harga tembaga yang tinggi akan menaikkan biaya produksi untuk industri kendaraan listrik, konstruksi, hingga elektronik. Ini berarti harga barang bisa ikut naik di tengah tekanan biaya hidup yang sudah tinggi.
Pergeseran Rantai Pasok Global:** China, konsumen tembaga terbesar dunia, bisa mengalami kekurangan pasokan karena gelombang pengalihan tembaga ke AS. Ini dapat menekan manufaktur dan mengganggu produksi teknologi global.
Boom Industri Tambang AS:** Pemerintah AS menggunakan peluang ini untuk mendorong produksi lokal. Rio Tinto, misalnya, tengah menggenjot investasi di tambang Kennecott (Utah) dan proyek Resolution (Arizona) usai Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mempercepat perizinan mineral.
Spekulasi Investasi Baru:** Banyak perusahaan kini berlomba mengamankan pasokan tembaga lebih awal, bahkan mempertimbangkan substitusi material untuk menghindari fluktuasi harga jangka pendek.
Realitas Baru Dunia Butuh Lebih Banyak Tembaga
Permintaan tembaga tidak akan berhenti dalam waktu dekat. IEA memproyeksikan permintaan tembaga untuk energi bersih seperti EV dan energi terbarukan akan melonjak dari 5.380 kiloton (kt) pada 2021 menjadi 16.343 kt pada 2040.
Sementara itu, kebutuhan tradisional (konstruksi, kabel listrik) tetap stabil, membawa total permintaan ke lebih dari 36 juta ton per tahun.
Namun sisi pasokan justru melemah. Grade bijih tembaga global telah turun 40% sejak 1991, menurut BHP, yang menyebut bahwa separuh tambang dunia akan mengalami penurunan produktivitas dalam dekade ini.
Untuk memenuhi permintaan masa depan, dunia perlu investasi baru sebesar $250 miliar.
Bahkan, Chief Commercial Officer BHP, Rag Udd, memperkirakan permintaan tembaga global akan meningkat 70% hingga 2050, mencapai 50 juta ton per tahun. Dari pusat data AI hingga transisi energi bersih, semua bergantung pada logam merah ini.
Tarif Trump Alat Politik atau Strategi Industri?
Tarif yang diusulkan adalah bagian dari investigasi Departemen Perdagangan AS yang diluncurkan awal tahun ini. Trump yang tengah merintis pencalonan presiden lagi—menggunakan isu ini untuk menunjukkan ketegasannya dalam melindungi industri dalam negeri.
Namun, para analis memperingatkan: tarif bisa mendorong inflasi dan memperburuk hubungan dagang dengan negara eksportir seperti Chile, Peru, dan bahkan Kanada.
Nick Snowdon dari Mercuria menyebut fenomena ini sebagai "guncangan tersembunyi" yang belum sepenuhnya dihargai oleh pasar global. Ketika pelaku industri fokus pada pasokan jangka pendek, dunia sedang bergeser ke paradigma baru: era di mana logam seperti tembaga tak lagi hanya komoditas, tapi strategic asset dalam geopolitik dan teknologi global.
Tarif mungkin baru akan diumumkan secara resmi pada awal April, tapi getarannya sudah terasa hari ini. Pasar panik, industri bersiap, dan investor berebut posisi. Di tengah itu semua, satu hal jadi semakin jelas: tembaga adalah oksigen ekonomi masa depan dan dunia tak bisa hidup tanpanya.
Jika AS memutuskan untuk memagari logam merah ini dengan tarif, maka bukan hanya harga yang akan naik. Tapi juga ketegangan geopolitik, prioritas investasi global, dan arah transisi energi dunia.