Bitcoin Bangkit dari “Bear Market” Teknis, Naik 10% di Tengah Ketidakpastian Regulasi
Setelah jatuh ke $78K, Bitcoin bangkit 10% dan keluar dari bear market teknis. Namun, ancaman regulasi dan kebijakan Trump masih jadi faktor risiko.

Kiki • Mar 4, 2025

Setelah mengalami bulan Februari yang brutal, Bitcoin (BTC) akhirnya bangkit, mencatat kenaikan 10% dan diperdagangkan di level $94.003 pada 2 Maret 2025. Kenaikan ini menandai keluarnya Bitcoin dari bear market teknis, di mana harga sempat anjlok lebih dari 20% dari level tertinggi sepanjang masa.
Sementara itu, altcoin juga ikut reli XRP melonjak 37% ke $2,94, Ethereum (ETH) naik 13% ke $2.504, dan Solana (SOL) menguat 23% dalam 24 jam terakhir. Namun, meskipun lonjakan ini memberikan harapan bagi investor, pasar masih dihantui oleh ketidakpastian regulasi dan kebijakan ekonomi global.
Februari: Bulan Terburuk Bitcoin Sejak 2022
Februari 2025 menjadi bulan yang paling menyakitkan bagi Bitcoin sejak Juni 2022. Saat itu, harga BTC turun dari $101.000 ke sekitar $84.350, bahkan sempat menyentuh $78.867 pada 28 Februari penurunan bulanan terbesar sejak kehancuran ekosistem Terra-LUNA.
Penurunan ini juga mendorong Bitcoin masuk ke bear market teknis, yang didefinisikan sebagai koreksi lebih dari 20% dari level tertinggi sepanjang masa. BTC sebelumnya mencapai $109.021 pada 20 Januari 2025, bertepatan dengan pelantikan kembali Donald Trump sebagai Presiden AS.
Meski mengalami pemulihan di awal Maret, sentimen pasar masih rapuh. Bitcoin Fear & Greed Index menunjukkan bahwa ketakutan masih mendominasi pasar, dengan euforia pasca-kemenangan Trump di pemilu November 2024 kini mulai memudar.
Apa yang Memicu Penurunan Bitcoin?
Beberapa faktor utama berkontribusi terhadap aksi jual besar-besaran Bitcoin di Februari:
1. Gejolak Ekonomi Global & Ancaman Perang Dagang
Salah satu penyebab utama ketidakstabilan pasar adalah kebijakan ekonomi agresif Trump. Baru-baru ini, Trump mengancam akan memberlakukan tarif baru pada impor dari Kanada, Meksiko, dan China, yang meningkatkan ketegangan perdagangan global dan memicu volatilitas di pasar keuangan.
Pasar saham Wall Street juga mengalami koreksi besar, sementara nilai dolar AS melemah, memaksa investor untuk menghindari aset berisiko seperti kripto.
2. Regulasi Kripto yang Masih Tidak Pasti
Meskipun Trump menjanjikan kebijakan pro-kripto, belum ada langkah konkret yang benar-benar mengubah lanskap regulasi. Investor masih menunggu kejelasan tentang regulasi stablecoin, ETF Bitcoin spot tambahan, serta peran SEC dan CFTC dalam mengawasi industri ini.
Menurut Susannah Streeter, Kepala Pasar di Hargreaves Lansdown, “tanpa langkah konkret dari Trump, ketidakpastian akan terus membayangi pasar.”
3. Serangan Siber Bybit Senilai $1,5 Miliar
Selain faktor makroekonomi, sentimen pasar juga terpukul oleh serangan siber besar-besaran terhadap bursa kripto Bybit, yang mengakibatkan hilangnya $1,5 miliar aset digital. Insiden ini menambah kekhawatiran investor terhadap keamanan platform perdagangan kripto.
Trump dan Janji-Janjinya yang Belum Terpenuhi
Trump telah menunjukkan sikap pro-kripto, dengan menunjuk pejabat yang lebih ramah terhadap industri blockchain, termasuk perubahan kepemimpinan di SEC. Bahkan, regulator keuangan AS baru saja mencabut gugatan terhadap Coinbase, menandai perubahan sikap yang lebih positif terhadap industri ini.
Trump juga kembali menegaskan rencananya untuk membentuk Crypto Reserve AS, dengan Bitcoin dan Ethereum sebagai inti utama cadangan—bersama XRP, Solana, dan Cardano.
Namun, banyak tokoh industri yang masih skeptis. CEO Custodia Bank, Caitlyn Long, menyatakan bahwa belum ada perubahan nyata dalam kebijakan pemerintah terkait akses bank terhadap industri kripto, menunjukkan bahwa janji Trump masih sebatas wacana.
Prediksi Bitcoin: Bisa Tembus $500.000?
Meski pasar kripto masih dalam fase pemulihan, beberapa analis tetap optimistis. Geoff Kendrick, analis dari Standard Chartered, percaya bahwa Bitcoin bisa mencapai $500.000 sebelum akhir masa jabatan kedua Trump.
Kendrick menilai bahwa deregulasi yang lebih besar, masuknya modal institusional, serta adopsi Bitcoin oleh pemerintah bisa menjadi faktor pendorong utama. Namun, agar skenario ini terjadi, pemerintahan Trump harus memberikan sinyal kebijakan yang lebih jelas kepada pasar.
Pemulihan Bitcoin, Tapi Risiko Masih Mengintai
Kenaikan Bitcoin sebesar 10% memberi harapan baru bagi investor, tetapi pasar masih berada dalam fase ketidakpastian.
Jika Trump dan administrasinya gagal memberikan regulasi yang mendukung, serta jika ketegangan ekonomi global terus meningkat, pemulihan Bitcoin bisa berubah menjadi volatilitas baru.
Apakah ini awal dari reli besar menuju level tertinggi baru, atau hanya pemantulan sesaat sebelum penurunan lebih dalam? Semua mata kini tertuju pada kebijakan Gedung Putih dan reaksi pasar dalam beberapa minggu ke depan.