Crash

Cari tahu apa itu Crash dan sejarahnya, hanya di Kamus Investasi Nanovest.

article author image

AjengMar 24, 2025

article cover image

Apa Itu Crash?

Penurunan harga market yang drastis, atau "crash" dapat dipicu oleh dua faktor utama, yakni masalah ekonomi dan kepanikan investor. Masalah ekonomi, seperti penggunaan utang yang berlebihan di market, dapat menyebabkan kerentanan.

Sementara itu, kepanikan terjadi ketika penurunan harga memicu ketakutan dan mendorong investor untuk menjual aset mereka tanpa peduli harga. Beberapa crash, seperti yang terjadi pada tahun 2010, disebabkan oleh masalah teknis dalam sistem perdagangan market itu sendiri.

Crash sering kali memiliki efek domino, menyebar dari satu area market yang lemah ke area lain yang sebelumnya dianggap stabil. Misalnya, investor yang mengalami kerugian di stocks exchange mungkin terpaksa menjual aset lain, yang dapat memicu penurunan harga yang lebih luas.

Untuk mencegah efek yang lebih parah, banyak stocks exchange menggunakan mekanisme "pemutus arus" yang menghentikan perdagangan jika harga turun terlalu tajam.

Crash berbeda dengan bear market karena terjadi dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari, sementara bear market adalah penurunan harga yang berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Crash dapat memiliki dampak yang signifikan pada ekonomi secara keseluruhan, menyebabkan resesi atau depresi, dan diikuti oleh penurunan market yang berkepanjangan.

Sejarah Crash

Ada sejumlah crash bersejarah di abad ke-20 dan ke-21, berikut ini adalah daftar sejarah yang paling terkenal.

1. Black Monday, 28 Oktober 1929

Kehancuran stocks market tahun 1929, yang dimulai pada 24 Oktober dan mencapai puncaknya pada 13 November memicu penjualan panik dan kerugian besar selama dua tahun berikutnya.

Dua setengah tahun kemudian, pada Juli 1932, Indeks Dow Jones Industrial Average mencapai titik terendahnya, setelah merosot 90% dari puncaknya pada September 1929. Ini merupakan penurunan pasar terburuk dalam sejarah Wall Street.

Indeks Dow Jones baru kembali ke level tertingginya pada tahun 1929 lebih dari 30 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1954.

Kehancuran ini memicu lahirnya banyak regulasi federal penting, termasuk Undang-undang Glass-Steagall tahun 1933, yang melarang bank komersial melakukan kegiatan perbankan investasi. Undang-undang ini sebagian besar dicabut pada tahun 1999.

Setelah krisis keuangan tahun 2008, banyak fungsi dari Undang-Undang Glass-Steagall digantikan oleh Undang-undang Dodd-Frank tahun 2010, yang mencakup Aturan Volcker.

Aturan ini, yang dinamai dari mantan ketua Federal Reserve Paul Volcker, bertujuan mengurangi risiko sistemik dalam sistem perbankan dengan membatasi kemampuan bank untuk melakukan perdagangan spekulatif dan melarang mereka berdagang menggunakan dana milik sendiri.

2. Krisis Keuangan Tahun 2008 dan Keruntuhan Saham

Krisis ekonomi global yang dikenal sebagai Resesi Besar dimulai pada tahun 2007, ditandai dengan penurunan tajam stocks market yang kehilangan lebih dari setengah nilainya. Kejatuhan ini dipicu oleh gelembung harga perumahan, yang disebabkan oleh praktik bank dalam menggabungkan pinjaman menjadi surat berharga berbasis hipotek.

Ketika semakin banyak orang gagal membayar pinjaman mereka, kepercayaan terhadap peringkat kredit surat berharga tersebut merosot, dan surat berharga tersebut menjadi sulit dijual. Kondisi ini memicu krisis keuangan yang merambat ke seluruh dunia, berdampak signifikan pada ekonomi global.

3. Crash pada Maret 2020

Setelah mengalami kenaikan pesat selama sebelas tahun, stocks market S&P 500 mencapai puncaknya pada 12 Februari 2020.

Penurunan market secara bertahap terjadi selama beberapa minggu berikutnya mencapai titik terendah pada 12 Maret dengan penurunan 10%, yang merupakan penurunan harian terburuk sejak tahun 1987.

Penurunan ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk kekhawatiran investor tentang berakhirnya market bullish yang telah berlangsung lama, serta penyebaran pandemi COVID-19. Meskipun market sempat anjlok, pemulihan cepat terjadi karena didukung oleh paket stimulus pemerintah.

Meskipun "crash" pada stocks market bisa menakutkan, hal itu bisa menjadi peluang emas bagi investor. Saat harga di market turun, kamu dapat membeli saham perusahaan berkualitas tinggi dengan harga yang jauh lebih rendah dari biasanya.

Sebelum berinvestasi, pastikan kamu memahami risiko yang terlibat dan lakukan riset yang mendalam.

Nanovest bisa menjadi platform investasi pilihan dengan jaminan keamanan terbaik, dan sudah mendapatkan izin dari BAPPEBTI.

Mulai dari Rp5000 saja sudah bisa berinvestasi dengan menyediakan lebih dari 600+ saham AS populer, aset kripto, dan emas. #AmanSamaNano

Bosan berinvestasi sendirian? Bergabunglah dengan ratusan investor lainnya di Nano Social! Dapatkan dukungan, inspirasi, dan wawasan dari komunitas investor yang solid.

Unduh  aplikasinya sekarang dan mulai perjalanan investasi kamu bersama Nanovest!

Nanovest News v3.23.2