Harga Emas Terkoreksi Tipis, Ketidakpastian Tarif Trump dan Data Inflasi AS Jadi Fokus Pasar
Emas tergelincir tipis seiring naiknya imbal hasil dan rencana tarif otomotif Trump. Investor menanti data PCE untuk petunjuk arah suku bunga The Fed. Apa implikasinya untuk pasar logam mulia?

Kiki • Mar 27, 2025

Setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa minggu lalu, harga emas dunia kini sedikit melunak. Pada Rabu waktu AS, logam mulia ini diperdagangkan di kisaran $3.016 per ons, terkoreksi tipis 0,1%.
Meski demikian, level psikologis $3.000 masih bertahan kuat, menandakan bahwa pasar belum sepenuhnya meninggalkan aset safe haven ini.
Namun di balik angka itu, ada narasi yang jauh lebih kompleks: dari lonjakan imbal hasil obligasi AS, penguatan dolar, hingga ketegangan geopolitik dan kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump yang dinilai dapat memicu gelombang baru inflasi global.
Kenaikan Imbal Hasil dan Dolar Menekan Harga Emas
Penguatan indeks dolar AS sebesar 0,4% dan naiknya imbal hasil obligasi 10 tahun menjadi katalis koreksi harga emas. Keduanya merupakan musuh alami bagi emas dolar yang lebih kuat membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sementara yield yang lebih tinggi membuat investor beralih dari aset non-yielding seperti emas.
Namun, di tengah tekanan teknikal itu, logam kuning masih disangga oleh sentimen kekhawatiran global. “Emas masih ditopang oleh minat lindung nilai (haven interest) di tengah ketidakpastian tarif dan risiko geopolitik,” ujar Peter Grant, VP di Zaner Metals.
Ancaman Tarif Trump Bisa Picu Inflasi Baru?
Presiden Trump pada awal pekan ini kembali mengguncang pasar dengan pernyataan bahwa tarif impor mobil “segera diberlakukan.” Namun ia juga mengisyaratkan bahwa beberapa negara bisa mendapatkan pengecualian, dan tarif tak akan langsung diberlakukan secara menyeluruh pada 2 April.
Pernyataan ambigu ini menciptakan ketidakpastian besar. Investor khawatir tarif tersebut dapat memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global dua hal yang biasanya mendongkrak permintaan terhadap emas.
“Jika ternyata tarif yang dijatuhkan tidak separah ekspektasi pasar, kita bisa lihat koreksi lanjutan di harga emas,” kata analis Marex, Edward Meir. Namun jika tarif benar-benar agresif, harga emas bisa kembali memanas.
Emas Masih Naik 15% Sepanjang Tahun
Perlu dicatat, meski ada koreksi singkat, harga emas telah naik lebih dari 15% sepanjang 2025, dan menyentuh level tertinggi sepanjang masa di $3.057,21 per ons pada 20 Maret lalu.
Kenaikan ini dipicu oleh gabungan sentimen: ketegangan geopolitik di Timur Tengah, potensi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, dan kekhawatiran pasar atas stabilitas fiskal AS.
Fokus pasar kini tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis Jumat ini. Jika inflasi inti PCE menunjukkan angka yang lebih jinak, itu akan menguatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mulai menurunkan suku bunga tahun ini kondisi yang sangat mendukung bagi logam mulia.
“PCE yang jinak akan memperkuat sikap dovish The Fed dan memberi dorongan lanjutan untuk harga emas,” ujar Grant.
Apa Kata The Fed?
Gubernur The Fed dari Minneapolis, Neel Kashkari, menyatakan bahwa meski inflasi telah melandai secara signifikan, “kami masih punya pekerjaan rumah untuk menurunkannya ke target 2%.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa The Fed tetap berhati-hati, dan keputusan pemangkasan suku bunga tidak akan diambil secara tergesa-gesa.
Suku bunga yang lebih rendah membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil (yield) terlihat lebih menarik sebagai alternatif investasi, khususnya bagi investor institusional dan sovereign wealth fund yang ingin melindungi nilai aset mereka.
Logam Lain Ikut Bergerak
Selain emas, beberapa logam mulia lainnya juga mencatat pergerakan:
Perak** turun 0,3% ke $33,63 per ons
Platinum** melemah 0,1% menjadi $975,17
Palladium** justru naik 1% ke $965,98
Volatilitas di sektor logam mulia menandakan bahwa pasar masih dalam mode waspada menjelang rilis data ekonomi utama dan kepastian soal kebijakan Trump.
Saat Pasar Menahan Napas
Koreksi kecil pada harga emas tidak serta-merta menandakan pembalikan tren. Pasar masih menanti kepastian arah suku bunga AS dan skala dampak kebijakan tarif Presiden Trump. Jika kedua faktor ini mengarah pada ketidakpastian atau tekanan inflasi baru, emas bisa kembali reli menuju target teknikal berikutnya di $3.150 per ons.
“Ketika dunia makin bingung memilih arah, emas tetap jadi pilihan mereka yang memilih aman,”