Okt 30, 2023

Delisting

Apa itu Delisting?

Delisting merujuk pada proses penghapusan sekuritas (seperti saham) yang sudah terdaftar dari bursa saham. Ini bisa terjadi karena beberapa alasan dan dapat memengaruhi likuiditas dan aksesibilitas terhadap aset tersebut.

Delisting bisa bersifat sementara atau permanen, tergantung pada situasinya. Penghapusan sekuritas dapat bersifat sukarela atau tidak sukarela dan biasanya terjadi ketika perusahaan menghentikan operasinya, menyatakan bangkrut, bergabung, tidak memenuhi persyaratan pencatatan, atau berusaha menjadi pribadi.

 

Bagaimana Proses Delisting

Proses delisting adalah langkah yang dilakukan oleh sebuah bursa saham untuk menghapus sekuritas (seperti saham) dari daftar perdagangan resmi bursa tersebut. Proses ini melibatkan serangkaian langkah yang diatur oleh peraturan dan regulasi bursa saham, serta hukum yang berlaku. Berikut adalah gambaran umum tentang bagaimana proses delisting biasanya berjalan:

  1. Notifikasi Awal: Biasanya, bursa saham memberikan notifikasi awal kepada perusahaan yang terdaftar jika mereka telah melanggar aturan atau tidak memenuhi persyaratan bursa. Notifikasi ini memberi perusahaan kesempatan untuk mengambil tindakan korektif atau memberikan alasan mengapa mereka seharusnya tidak dihapus.
  2. Pemeriksaan dan Penilaian: Bursa saham akan melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap kondisi perusahaan. Ini dapat melibatkan pemeriksaan kinerja keuangan, kepatuhan aturan, likuiditas saham, dan faktor-faktor lain yang berkaitan dengan kelangsungan usaha perusahaan.
  3. Pemberitahuan Publik: Jika bursa saham menentukan bahwa perusahaan tidak memenuhi persyaratan atau melanggar aturan yang ditetapkan, bursa akan memberikan pemberitahuan publik mengenai niat mereka untuk melakukan delisting. Ini memberi waktu kepada investor untuk mengambil tindakan yang sesuai.
  4. Tawaran Pembelaan atau Aksi Korektif: Perusahaan yang terancam delisting mungkin mencoba melakukan upaya pembelaan atau mengambil langkah-langkah korektif untuk memenuhi kembali persyaratan bursa saham.
  5. Proses Peninjauan dan Persetujuan: Setelah periode pemberitahuan publik, bursa saham akan melanjutkan dengan proses peninjauan dan persetujuan untuk melakukan delisting. Ini melibatkan pertimbangan regulasi dan prosedur internal bursa.
  6. Tanggal Delisting: Jika bursa saham setuju untuk melanjutkan dengan delisting, mereka akan menentukan tanggal resmi di mana sekuritas tersebut akan dihapus dari daftar perdagangan bursa. Pada tanggal ini, sekuritas tersebut tidak lagi dapat diperdagangkan di bursa saham tersebut.
  7. Pemindahan Perdagangan: Setelah delisting, jika investor masih ingin berdagang dengan sekuritas tersebut, mereka harus mencari pasar alternatif, seperti pasar OTC (Over-the-Counter) atau bursa saham lainnya yang masih memperdagangkan sekuritas tersebut.

Penting untuk diingat bahwa proses delisting dapat bervariasi tergantung pada peraturan bursa saham yang berlaku dan hukum di yurisdiksi tertentu. Selain itu, delisting tidak selalu bersifat permanen. Beberapa perusahaan mungkin memiliki opsi untuk kembali memenuhi persyaratan bursa saham dan mengajukan permohonan untuk di-daftar ulang di kemudian hari.

Bagi investor, delisting memiliki dampak besar terhadap likuiditas saham dan harga. Setelah delisting, investor mungkin perlu mencari pasar alternatif, seperti pasar OTC atau bursa lain, untuk memperdagangkan saham tersebut. Oleh karena itu, penting untuk selalu memahami situasi perusahaan dan mendasarkan keputusan investasi pada informasi yang akurat dan komprehensif.

Setiap bursa, seperti New York Stock Exchange (NYSE), menetapkan peraturan dan regulasinya sendiri untuk listing. Standar yang paling umum adalah harga. Misalnya, sebuah perusahaan dengan harga saham di bawah $1 per saham selama berbulan-bulan mungkin berisiko dihapus dari daftar.

Sebagai alternatif, perusahaan dapat secara sukarela meminta untuk dihapus dari daftar. Beberapa perusahaan memilih untuk diperdagangkan secara pribadi ketika mereka mengidentifikasi, melalui analisis biaya-manfaat, bahwa biaya menjadi perusahaan publik melebihi keuntungannya.

Permintaan untuk menghapus sering terjadi ketika perusahaan dibeli oleh perusahaan ekuitas swasta dan akan direorganisasi oleh pemegang saham baru.

Perusahaan-perusahaan ini dapat mengajukan delisting untuk diperdagangkan secara pribadi. Juga, ketika perusahaan terdaftar bergabung dan berdagang sebagai entitas baru, perusahaan yang sebelumnya terpisah secara sukarela meminta penghapusan.

 

Delisting Perusahaan Secara Involuntary

Delisting perusahaan secara involuntary (tidak suka rela) terjadi ketika bursa saham menghapus sekuritas perusahaan dari daftar perdagangan tanpa persetujuan atau kesepakatan dari perusahaan tersebut. Ini biasanya terjadi karena pelanggaran aturan atau persyaratan bursa yang ditetapkan.

Berikut adalah beberapa contoh situasi yang dapat menyebabkan delisting perusahaan secara involuntary:

  • Ketidakpatuhan Terhadap Persyaratan Keuangan: Bursa saham memiliki persyaratan tertentu terkait kinerja keuangan yang harus dipenuhi oleh perusahaan yang terdaftar. Jika perusahaan tidak mematuhi persyaratan tersebut, misalnya tidak memenuhi persyaratan pendapatan minimum atau rasio utang, bursa dapat memilih untuk melakukan delisting.
  • Harga Saham yang Terlalu Rendah: Bursa saham mungkin memiliki persyaratan minimum untuk harga saham. Jika harga saham perusahaan terlalu rendah dan tidak memenuhi persyaratan tersebut dalam jangka waktu tertentu, bursa dapat menghapus saham tersebut dari daftar perdagangan.
  • Kurangnya Likuiditas: Jika saham perusahaan mengalami likuiditas yang sangat rendah dan perdagangannya sangat jarang, bursa saham dapat memilih untuk melakukan delisting.
  • Ketidakpatuhan Atas Aturan Lainnya: Bursa saham memiliki berbagai aturan dan regulasi yang harus dipatuhi oleh perusahaan yang terdaftar. Pelanggaran serius terhadap aturan-aturan ini, seperti pengungkapan yang tidak akurat atau manipulasi pasar, bisa mengakibatkan delisting.
  • Kepailitan atau Likuidasi: Jika perusahaan menghadapi kepailitan atau memasuki proses likuidasi, bursa saham mungkin menghapus saham perusahaan dari daftar perdagangan.
  • Kurangnya Pengungkapan: Bursa saham mungkin mensyaratkan perusahaan untuk menyediakan informasi keuangan dan operasional secara teratur. Jika perusahaan gagal untuk memberikan pengungkapan yang memadai, delisting dapat menjadi hasilnya.

Proses delisting involuntary biasanya melibatkan serangkaian pemberitahuan, peninjauan, dan persetujuan dari bursa saham. Keputusan akhir untuk melakukan delisting akan bergantung pada evaluasi yang dilakukan oleh bursa saham berdasarkan pada pelanggaran atau ketidakpatuhan yang telah terjadi.

Bagi investor, delisting involuntary memiliki dampak besar terhadap likuiditas dan nilai saham mereka. Setelah delisting, saham tersebut mungkin hanya dapat diperdagangkan di pasar OTC atau di bursa alternatif. Oleh karena itu, penting untuk selalu memahami situasi perusahaan dan melakukan riset yang mendalam sebelum melakukan investasi dalam saham yang terdaftar di bursa saham.

Konsekuensi dari delisting bisa menjadi signifikan karena saham yang tidak diperdagangkan di salah satu bursa saham utama lebih sulit bagi investor untuk meneliti dan lebih sulit untuk membeli. Pada Mei 2016, perusahaan mengajukan kebangkrutan dan mulai melakukan perdagangan over the counter (OTC).

Di Amerika Serikat, sekuritas yang dihapus pencatatannya dapat diperdagangkan secara OTC kecuali jika dihapuskan untuk menjadi perusahaan swasta atau karena likuidasi.

 

Apa yang Terjadi Pada Aset Saya Setelah Dihapus?

Setelah aset kamu (seperti saham) dihapus dari daftar perdagangan atau mengalami delisting, beberapa hal akan terjadi:

  1. Tidak Dapat Diperdagangkan di Bursa Saat Ini: Setelah delisting, aset tidak lagi dapat diperdagangkan di bursa saham tempat mereka sebelumnya terdaftar. Ini berarti tidak dapat membeli, menjual, atau menukar aset tersebut di bursa tersebut.
  2. Pemindahan Perdagangan ke Pasar Alternatif: Jika masih ingin memperdagangkan aset tersebut, mungkin harus mencari pasar alternatif, seperti pasar OTC (Over-the-Counter) atau bursa saham lain yang masih memperdagangkan aset tersebut. Namun, perdagangan di pasar alternatif mungkin memiliki likuiditas yang lebih rendah dan risiko yang lebih tinggi.
  3. Likuiditas yang Terbatas: Delisting dapat mengurangi likuiditas aset, karena tidak dapat diperdagangkan di bursa saham utama. Ini berarti bahwa menemukan pembeli atau penjual untuk aset tersebut mungkin menjadi lebih sulit, dan harga jual atau beli bisa sangat bervariasi.
  4. Potensi Nilai yang Berubah: Harga aset mungkin mengalami perubahan signifikan setelah delisting. Harga aset dapat mengalami volatilitas atau penurunan tergantung pada kondisi pasar dan faktor-faktor lainnya.
  5. Akses ke Informasi Terbatas: Biasanya, perusahaan yang terdaftar di bursa saham wajib memberikan pengungkapan informasi keuangan dan operasional secara teratur. Setelah delisting, mungkin tidak lagi memiliki akses mudah terhadap informasi ini.
  6. Potensi Kembali Terdaftar: Dalam beberapa kasus, perusahaan yang telah mengalami delisting involuntary mungkin memiliki kesempatan untuk memenuhi kembali persyaratan bursa dan mengajukan permohonan untuk kembali terdaftar di kemudian hari.

Dalam semua kasus, penting untuk mengerti bahwa delisting dapat memiliki konsekuensi signifikan bagi investasi. Sebelum berinvestasi dalam aset yang terdaftar di bursa saham, sangat disarankan untuk melakukan riset yang mendalam tentang perusahaan tersebut, persyaratan bursa saham, dan potensi risiko yang terkait dengan delisting.

Jika aset mengalami delisting atau dihapus dari daftar perdagangan, penting untuk mempertimbangkan pilihan dengan hati-hati dan mungkin berkonsultasi dengan ahli keuangan atau penasihat investasi.

 

Apa yang Harus  Dilakukan Setelah Delisting?

Setelah aset mengalami delisting atau dihapus dari daftar perdagangan di bursa saham, ada beberapa langkah yang disarankan untuk dipertimbangkan:

  • Cari Informasi: Pelajari lebih lanjut tentang alasan delisting dan kondisi perusahaan yang mengakibatkannya. Memahami situasi perusahaan dapat membantu membuat keputusan yang lebih terinformasi.
  • Evaluasi Nilai Aset: Evaluasi ulang nilai aset. Harga aset mungkin mengalami perubahan setelah delisting, jadi penting untuk memiliki pemahaman yang realistis tentang nilai aktualnya.
  • Eksplorasi Pasar Alternatif: Jika masih ingin memperdagangkan aset tersebut, cari tahu apakah ada pasar alternatif tempat kamu dapat memperdagangkan aset tersebut, seperti pasar OTC atau bursa saham lainnya yang masih memperdagangkan aset tersebut. Namun, ingatlah bahwa perdagangan di pasar alternatif mungkin memiliki risiko dan likuiditas yang lebih tinggi.
  • Konsultasi dengan Ahli Keuangan: Pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan ahli keuangan atau penasihat investasi. Mereka dapat membantu memahami implikasi dari delisting terhadap investasi dan memberikan saran tentang langkah selanjutnya yang paling sesuai dengan situasi kamu.
  • Pertimbangkan Tujuan Keuangan: Tinjau kembali tujuan keuangan dan bagaimana aset yang di-delisting ini sejalan dengan tujuan tersebut. Apakah memiliki rencana jangka panjang atau pendek untuk aset tersebut?
  • Diversifikasi Portofolio: Jika aset yang di-delisting merupakan bagian dari portofolio investasi, pertimbangkan untuk melihat kembali diversifikasi portofolio. Diversifikasi dapat membantu mengurangi risiko karena tidak semua aset berkinerja buruk secara bersamaan.
  • Pertimbangkan Aksi Hukum: Dalam beberapa kasus, delisting mungkin terjadi karena alasan yang kontroversial atau terlibat dalam tindakan ilegal. Jika merasa terdampak secara negatif oleh delisting yang tidak adil, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan ahli hukum tentang opsi hukum yang mungkin ada.
  • Pemutusan Aset: Jika yakin bahwa aset tersebut tidak lagi sesuai dengan tujuan atau strategi investasi, pertimbangkan untuk menjualnya atau mengambil tindakan lain sesuai kebutuhan.

Penting untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan profil risiko, tujuan keuangan, dan pengetahuan yang dimiliki. Delisting dapat memiliki dampak besar terhadap investasi, jadi penting untuk menjaga kewaspadaan dan mempertimbangkan langkah-langkah yang paling bijaksana dalam situasi kamu.

 

Bisakah Menjual Aset Setelah Delisting?

Jika masih memegang saham setelah dihapus dari daftar, kamu dapat menjualnya hanya saja tidak di bursa tempat mereka berdagang sebelumnya.

Bursa efek adalah tempat di mana saham dan instrumen keuangan lainnya diperdagangkan, dan bisa memberikan manfaat yang signifikan bagi jual beli saham serta partisipasi dalam pasar keuangan. Ketika mereka menghapus dan memperdagangkan over the counter (OTC), menjual saham dan mendapatkan harga yang wajar untuk mereka menjadi jauh lebih sulit.

 

Bisakah Delisting Baik Untuk Perusahaan?

Delisting dapat memiliki dampak yang bervariasi tergantung pada situasi dan tujuan perusahaan. Meskipun delisting sering kali dianggap sebagai tanda negatif atau hasil dari masalah yang mendasar, ada beberapa situasi di mana delisting mungkin dianggap sebagai langkah yang baik atau bermanfaat bagi perusahaan:

  1. Penghematan Biaya: Berada di bursa saham memerlukan biaya tambahan untuk mematuhi aturan bursa, pengungkapan finansial, dan audit. Bagi perusahaan yang mengalami tekanan finansial atau yang merasa bahwa biaya ini tidak sebanding dengan manfaatnya, delisting dapat menghemat biaya operasional.
  2. Privasi yang Lebih Besar: Perusahaan yang terdaftar di bursa saham terikat pada persyaratan pengungkapan yang ketat. Delisting dapat memberikan perusahaan lebih banyak kendali atas informasi yang mereka ungkapkan kepada publik dan pesaing.
  3. Fleksibilitas Manajemen: Perusahaan yang tidak terdaftar di bursa saham memiliki lebih banyak fleksibilitas dalam mengambil keputusan strategis dan operasional tanpa harus khawatir tentang dampaknya terhadap harga saham dan reaksi pasar.
  4. Pemusatan Kepemilikan: Beberapa perusahaan mungkin ingin memusatkan kepemilikan saham di tangan pemegang saham utama atau manajemen. Delisting dapat membantu mencapai tujuan ini dengan mengurangi pemegang saham minoritas atau investor institusional.
  5. Penghindaran Volatilitas Pasar: Pasar saham dapat mengalami volatilitas yang tinggi, dan harga saham dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal yang tidak selalu berkaitan dengan kinerja perusahaan. Delisting dapat membantu perusahaan menghindari fluktuasi harga saham yang mungkin tidak mencerminkan nilai nyata perusahaan.

Namun, perlu dicatat bahwa delisting juga memiliki potensi konsekuensi negatif, terutama dalam hal akses terhadap pendanaan, likuiditas saham, dan transparansi. Pengambilan keputusan untuk delisting harus dipertimbangkan dengan hati-hati, dan perusahaan harus melakukan analisis mendalam tentang manfaat dan risiko yang terkait dengan langkah tersebut.

Delisting yang tidak terencana atau dilakukan karena masalah yang lebih dalam dapat merugikan pemegang saham dan citra perusahaan. Oleh karena itu, keputusan delisting harus didasarkan pada analisis menyeluruh dan perencanaan yang matang.

 

Delisting
by Kiki A. Ramadhan

0 comments


Artikel lainnya